• Jumat, 12 Agustus 2022

Renungan HUT Kemerdekaan RI. Apa Pendapat Anda dengan Perbedaan Tentang Paradigma Kemerdekaan

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 11:53 WIB
Logo Dirgahayu Indonesia (Kemlu.go.id)
Logo Dirgahayu Indonesia (Kemlu.go.id)


Bulan Agustus sudah tiba. Tak jarang kita menjumpai banyak kemeriahan dalam penyambutan hari kemerdekaan RI.

Tahun ini, 2022, sudah banyak twibbon berseliweran menyambut dirgahayu Republik Indonesia yang ke 77 tahun.

Usia 77 tahun bukanlah usia muda, bahkan jika itu manusia, maka sudah menjadi manusia yang mulai renta.

Tapi bagaimana jika itu adalah sebuah bangsa. Bangsa besar Indonesia. Tentu berbeda dengan manusia.

Kita lihat bangsa / Negara Amerika berdiri tahun 1776 M baru 167 tahun kemudian Amerika benar-benar menjadi negara adidaya setelah memenangkan Perang Dunia Ke-2 di tahun 1943 M. Artinya hampir dua abad Amerika mendapatkan gelar Negara Adidaya.

Baca juga : Keamanan ketat jelang Perayaan Kemerdekaan RI ke 77 pada 17 Agustus 2022

Contoh lain misalnya Bangsa Muslim awalnya di Arab, sebelum diutusnya Rasul SAW, adalah bangsa yang terkategori mundur. Namun setelah diutus Rasul dan menjadi kepala negara di Madinah tahun 622 Masehi dan seterusnya setelah Khalifah Umar memimpin sampai 644 Masehi, Ummat Islam menjadi umat yang sangat berpengaruh di dunia. Hanya membutuhkan waktu, kurang dari 30 tahun saja.

Artinya jika di rata-ratakan dua bangsa di atas, negara atau bangsa barang kali akan memiliki pengaruh sangat besar di dunia setelah berdiri 100 tahun kemudian. 

Bangsa Indonesia sudah menapaki menuju perjalanan 100 tahun berdirinya, tentu sudah banyak kemajuan yang dicapai. 

Namun pertanyaannya adalah apakah Indonesia 20 tahun kedepan dapat menguasai dan memiliki pengaruh besar pada dunia.

Ada dua kubu jawaban. Iya dan Tidak.

Baca juga : Di buka Pendaftaran HUT Kemerdekaan RI mulai 2 Agustus 2022

Yang menjawab iya, karena sudah merasa yakin, Indonesia selama ini sudah melakukan hal-hal besar yang dapat dikatakan lebih maju dari dua dasawarsa terakhir seperti pembangunan gedung-gedung bertingkat, mengikuti trend perkembangan teknologi dunia, merdeka lebih dari 50 tahun dan lain sebagainya.

Yang menjawab tidak, mengatakan Indonesia belum sepenuhnya memiliki kemandirian dalam membangun negeri ini, gedung pencakar langit, pembangunan tol, trend teknologi semuanya masih dalam bantuan asing apakah dengan berhutang atau memperkerjakan tenaga asing.

Diluar perdebatan yang ada, seorang Ilmuwan Muslim, negarawan, sejarawan sekaligus Bapak sosiolog bernama Ibnu Khaldun mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah,  bahwa negara besar, maju dan terus akan maju jika melakukan hal ini;

Baca juga : 3 Amalan Merusak Rezeki, berhati-hatilah Jika Anda tidak ingin Rezeki Anda Hilang dan Musnah 

1. Negara selalu ada/hadir, dekat dengan rakyat dan dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan baik. (termasuk kebutuhan utama yakni kebutuhan pokok rakyat)

2. Negara yang memiliki hasrat tinggi untuk memimpin/menguasai dunia agar dapat mengelola rakyat dunia dengan sebaik-baiknya sesuai point pertama.

3. Negara yang dapat mengelola kekayaan alam dengan sebaik-baiknya dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyatnya

Nah setidaknya 3 hal di atas dibutuhkan agar sebuah bangsa dan negara menjadi besar dan memiliki pengaruh besar terhadap dunia.'

Bagaimana pembaca setia, sudahkah negara kita Indonesia yang besar ini menuju pada 3 hal di atas. 

Mari kita renungkan bersama dan barangkali kita dapat ikut mendorong negara ini mewujudkan 3 hal di atas.. Amin...

Sumber bacaan : 
- Ringkasan Muqaddimah karya Ibnu Khaldun

 

Halaman:

Editor: Hendri Wijaya

Tags

Terkini

Jangan Kaget Tarif Ojol Naik Per 14 Agustus 2022

Kamis, 11 Agustus 2022 | 20:12 WIB

Hari Ini Ferdy Sambo Batal Diperiksa Komnas HAM

Kamis, 11 Agustus 2022 | 19:01 WIB

Honor Panitia Pemilu 2024 Naik Segini Besaranya

Selasa, 9 Agustus 2022 | 20:09 WIB
X